Home » Cara Islam Memuliakan Wanita Dijabarkan Ustadz Abdul Somad, Begini Fitrah Kaum Hawa
Featured Global News Indonesia News Wanita

Cara Islam Memuliakan Wanita Dijabarkan Ustadz Abdul Somad, Begini Fitrah Kaum Hawa


BANJARMASINPOST.CO.ID – Penceramah Ustadz Abdul Somad menjabarkan macam-macam fitrah wanita muslim.

Dituturkan Ustadz Abdul Somad, ketika memiliki harta dan materi kaum hawa tidak memiliki tanggung jawab. Berbeda dengan laki-laki, Ustadz Abdul Somad mengatakan, kaum adam memiliki tanggung jawab yang besar kepada anak, istri dan keluarganya.

Fitrah wanita ada bermacam-macam di antaranya terkait nafkah, yang mana seorang istri menjadi tanggung jawab suaminya. Ustadz Abdul Somad menjelaskan, jika ada perempuan yang memberi makan anak dengan gajinya, maka hal itu bentuk pertolongan kepada si suami.

“Di zaman Nabi Muhammad SAW dulu, jika perempuan menstruasi tidak boleh masuk ke dalam rumah, dibuatkan tempat khusus. Ketika Islam datang perempuan yang haid boleh serumah dengan suaminya, satu tempat tidur, boleh memasak dan mengerjakan kerjaan rumah tangga lainnya,” papar Ustadz Abdul Somad dilansir Banjarmasinpost.co.id dari kanal youtube Ustadz Abdul Somad Official.

Tradisi sebelum Islam, perempuan meliputi ibu, anak kandung, saudara kandung tidak mendapat warisan. Islam datang untuk menyempurnakan fitrah perempuan, boleh mendapat warisan berdasarkan aturan syariat.

Laki-laki mendapatkan warisan 2:1 dari perempuan, hal ini bukan berarti laki-laki superior, melainkan terdapat banyak tanggung jawab, menanggung mahar nikah, menanggung perbelanjaan, jika ada saudara yang susah, orangtua tak makan maka laki-laki yang menanggung. “Jadi di balik lebihnya porsi warisan untuk laki-laki, ada tanggung jawab yang besar,” ucap Ustadz Abdul Somad.

Sebelum datang Islam, perempuan tidak boleh belajar membaca, namun kini banyak perempuan yang menuntut ilmu setinggi-tingginya, ada yang menjadi guru, dosen, dan lainnya.

Memuliakan perempuan menurut Islam dengan menutupinya, yakni menutup aurat sebagai aturan syariat. Perintah jilbab atau menutup aurat bagi muslimah termaktub dalam ayat Alquran.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ قُل لِّأَزْوَٰجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ ٱلْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَٰبِيبِهِنَّ ۚ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰٓ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ ۗ وَكَانَ ٱللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Yā ayyuhan-nabiyyu qul li`azwājika wa banātika wa nisā`il-mu`minīna yudnīna ‘alaihinna min jalābībihinn, żālika adnā ay yu’rafna fa lā yu`żaīn, wa kānallāhu gafụrar raḥīmā

Artinya: Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Sementara, menganut versi Barat dengan membuka atau melepas dan memamerkan aurat atas nama isu gender juga tidak sejalan dengan aturan Islam.

“Kenapa meledak gender ini, karena selama 15 abad perempuan mengalami diskriminasi, tidak boleh membaca, teraniaya, tidak punya kuasa, beda dengan Islam, sehingga saat ada masa pencerahan abad 15 mereka punya dobrakan,” jelas Ustadz Abdul Somad. Bahkan sebab isu gender yang sangat ekstrem, perempuan tidak mau menikah dengan laki-laki.

Sebab kaum adam dianggap menginjak perempuan selama 15 abad. Islam memuliakan perempuan dengan adanya aturan yang menghormati perempuan bukan membebaskannya tanpa arah.

Menutup aurat dengan jilbab selain perintah dari Allah, juga sebagai bentuk keimanan dan identitas diri muslimah. Jilbab tak sekadar dikenakan untuk identitas seorang muslimah yang menjadi wujud sayangnya Allah.

Sumber: Banjarmasin Tribun News

Translate