Home ยป 4 Tokoh Perempuan yang Jadi Ratu Kerajaan pada Era Klasik Nusantara
Asia Femele Indonesia Kerajaan Nusantara Perempuan Wanita

4 Tokoh Perempuan yang Jadi Ratu Kerajaan pada Era Klasik Nusantara


Jakarta – Dalam sejarah Indonesia, banyak kerajaan nusantara yang memiliki puncak kejayaan pada masanya masing-masing. Beberapa kerajaan bahkan mampu memperluas daerah kekuasaannya sampai ke luar pulau.
Meski banyak dari pemimpin kerajaan di nusantara adalah laki-laki atau raja, ternyata ada beberapa ratu yang pernah memimpin membawa kerajaannya masuk masa keemasannya.

Siapa sajakah mereka? Berikut 4 ratu yang pernah memimpin kerajaan nusantara dikutip dari situs Kemdikbud dan Buku Ensiklopedia Sejarah Lengkap Indonesia dari Era Klasik Sampai Kontemporer oleh Adi Sudirman (2019).

4 Ratu Kerajaan Pada Era Klasik Nusantara

1. Ratu Shima (Kerajaan Kalingga)

Sejak tahun 674 M, Kerajaan Kalingga dipimpin oleh sosok adil dan bijaksana yaitu Ratu Shima. Ia memiliki gelar Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara.

Ratu Shima memerintah secara keras dan adil sehingga tidak ada satu pun rakyat yang berani melanggar peraturan yang ada. Salah satu peraturannya yang terkenal tegas ‘barang siapa yang mencuri, akan dipotong tangannya’.

Bahkan, Ratu Shima menghukum putranya yang telah melanggar peraturan kerajaan. Ketegasannya tersebut membawa Kerajaan Kalingga berada di puncak masa kejayaannya.

Bukti bahwa Ratu Shima merupakan pemimpin yang adil disebutkan pada beberapa peninggalan sejarah. Dalam sebuah catatan berita China tertulis bahwa rakyat di bawah pimpinannya tidak ada satupun yang berani menyentuh pundi pundi emas yang terjatuh di jalan.

2. Ratu Pramodawardhani (Kerajaan Mataram Kuno)
Pramodawardhani merupakan putri mahkota dari Dinasti Syailendra. Lalu ia menikah dengan Rakai Pikatan yang berasal dari Dinasti Sanjaya. Setelah menikah, Pramodawardhani memiliki gelar Sri Kahulunan.

Pramodawardhani terkenal sebagai pemimpin yang adil hingga dalam kerajaannya terdapat dua agama yang hidup berdampingan. Buktinya terlihat dari berdirinya dua candi besar yakni Candi Prambanan yang beraliran Hindu (Agama Rakai Pikatan) dan Candi Sewu yang beraliran Buddha (Agama Pramodawardhani).

3. Ratu Tribhuwana Tunggadewi (Kerajaan Majapahit)
Tribhuwana Tunggadewi atau Gayatri adalah istri dari Raden Wijaya yang memerintah kerajaan Majapahit dan ibu dari Hayam Wuruk. Ia memiliki gelar Tribhuwana Tunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani setelah maju menjadi pemimpin menggantikan ibunya.

Pada masa kepemimpinannya, Kerajaan Majapahit mengalami masa kejayaan dengan adanya perluasan kekuasaan sebagai hasil dari Sumpah Palapa. Kerajaan Majapahit pun berhasil menaklukan Pulau Sumatera dan Bali.

Ia memerintah dari tahun 1328 hingga 1351. Pembenrontakan pada masa Ratu Tribhuwanatunggadewi yang terkenal adalah pemberontakan Sedeng.

4. Ratu Suhita (Kerajaan Majapahit)
Sebelum Kerajaan Majapahit mengalami keruntuhan, terdapat seorang permaisuri yang gigih dalam menumpas pemberontakan. Permaisuri tersebut bernama Suhita dan dikenal juga sebagai Ratu Kencanawungu.

Pada masa kepemimpinannya, Kerajaan Majapahit berhasil menaklukkan banyak daerah yang kemudian dijadikan sebagai bagian wilayah kekuasaan kerajaan yang berpusat di Trowulan.

Ratu Suhita memiliki strategi untuk menumpas beberapa musuhnya yang dianggap membahayakan. Strategi tersebut berupa sayembara yang pada saat itu cukup terkenal.

Sumber : Detik.com

Translate