Home » Perempuan Harus Diperlakukan Layaknya Pejuang
Asia Indonesia Women

Perempuan Harus Diperlakukan Layaknya Pejuang

Seorang ibu adalah pahlawan bagi anak-anaknya. Utamanya bagi mereka yang hidup tanpa suami dan berjuang sendiri sebagai kepala keluarga. Mereka tidak pantas dicemooh dan dikucilkan.

DISKUSI dengan tema Ibu, Ada Surga di Telapak Kakimu pada Sabtu (28/1) malam menambah banyak wawasan. Baik terhadap kaum pria maupun perempuan. Apalagi, acara yang diadakan oleh Damar Ate Sumenep itu menghadirkan sejumlah sosok perempuan hebat. Serta, sejumlah leading sector lainnya.

Diskusi yang dikonsep dengan ngobrol santai di kafe Kanca Kona Kopi, Desa Babbalan, Kecamatan Batuan, itu mengajarkan banyak hal terhadap tamu yang hadir. Mereka diberikan pemahaman terkait sosok perempuan. Bagaimana perjuangan kaum hawa untuk membesarkan anak dan menjadi kepala keluarga.

Dalam diskusi itu ditegaskan, tidak boleh lagi memandang sebelah mata kaum hawa. Termasuk, kepada mereka yang menjadi kepala keluarga karena ditinggal sosok seorang suami. Sebab, mereka tetap bisa tegar menjalani hidup dan menghidupi keluarganya tanpa bantuan suami.

Selama ini, sebagian masyarakat memandang negatif janda. Bahkan, aktivitas mereka selalu dipantau. Apalagi, ketika bersama dengan pria lain yang bukan kerabatnya. Tentu akan menjadi topik pembicaraan di lingkungannya. Walaupun, aktivitas yang mereka lakukan positif.

Hal ini yang membuat para perempuan yang juga kepala keluarga ini merasa terkucilkan. Stigma seperti ini harus mulai diubah. Sebab, mereka juga memiliki hak untuk menjalani hidupnya. Juga memiliki kesempatan yang sama dengan para kaum pria.

Ketua Umum Great Widow Community (GWC) Sumenep Megawati mengatakan, pihaknya terus berusaha menepis stigma negatif itu. Sebab, perempuan memiliki hak yang sama dengan pria. Aktivitas mereka semata-mata untuk bertahan hidup dan menghidupi keluarganya. ”Kalau di rumah saja, siapa yang akan memberikan makan,” katanya.

Megawati menyatakan, seorang perempuan harus bisa berfungsi menjadi seorang ibu dan ayah. ”Jadi, di satu sisi kita harus berperilaku lembut saat berperan sebagai ibu, dan di satu sisi harus bisa berperan tegas saat memosisikan diri sebagai ayah,” ucapnya.

Selama ini perempuan kerap dibandingkan dengan pria. Padahal, kaum hawa memiliki kesetaraan dengan pria. Yang membedakannya itu hanya empat kodrat yang tidak dimiliki laki-laki. Yaitu, menstruasi, mengandung, melahirkan, dan menyusui.

”Jadi, kita perempuan juga bisa melakukan apa yang bisa dilakukan laki-laki. Memiliki waktu, kesempatan yang sama. Intinya, hidup yang tidak diperjuangkan tidak akan pernah dimenangkan,” ulas Megawati.

Hal itu juga diucapkan oleh Ketua 1 Bidang Pendidikan, Jaringan dan Pemberdayaan Perempuan GWC Sumenep Faizah. Menurut dia, perempuan memang tidak boleh lemah. Perempuan juga harus bisa memosisikan diri menjadi seorang ayah bagi anak-anaknya.

Makanya, penting bagi seorang perempuan untuk mandiri. Termasuk, sebagai perempuan juga harus bisa menjadi perempuan yang cantik, terpelajar, menggunakan pakaian bagus, dan mencari uang sendiri,” katanya.

Sementara itu, Koordinator Damar Ate Sumenep Khalil Tirta mengatakan, perempuan memang merupakan sosok yang luar biasa. Sebab, kehidupan anak 75 persen dipengaruhi oleh perempuan. Seorang perempuan harus diberlakukan layaknya pejuang. Tidak boleh dipandang sebelah mata.

Terutama bagi mereka yang sudah berkeluarga namun gagal dalam perjalanan rumah tangganya. Mereka harus diberikan support agar tetap bsia memperjuangkan hidupnya. ”Perempuan hebat itu yang bisa menata dirinya maupun berpikir dan berusaha untuk bangkit. Mereka berikhtiar tidak bergantung pada laki-laki,” katanya.

Khalil Tirta menambahkan, para perempuan hebat seperti ini harus dijadikan contoh dan terus dihargai perjuangannya. Sebab, mereka bisa bangkit dalam menjalani kehidupannya tanpa seorang suami. ”Dia bisa bangkit dan menyekolahkan anaknya, serta bisa melalui kerasnya hidup di samping orang-orang yang mengucilkan dirinya,” tukasnya.

Di sisi lain, Dosen Ekonomi Universitas Trunojoyo Madura Achdiar Redy juga menyampaikan, seorang janda atau perempuan hebat ini tidak boleh lagi dijadikan bahan candaan. Sebab, perjuangan mereka sangat keras untuk memosisikan dirinya menjadi kepala keluarga. ”Mari kita lihat mereka sebagai sosok ibu dan anak-anak kita,” katanya. 

Source : Radar Madura

Translate